Efek Samping Obat-obatan Anti Tuberkulosis

4 Mei

Dalam pengobatan penyakit Tuberkulosis, diketahui cukup lama. Kurang lebih lamanya pengobatan berlangsung antara 6 sampai 9 bulan, bahkan terkadang lebih dari waktu tersebut.

Hampir semua dalam kasus penyakit TBC, bisa sembuh dengan mengkonsumsi obat-obatan anti TBC tersebut. Tentunya dengan mematuhi aturan minum dari obat yang dikonsumsi.

Efek Samping Obat-obatan Anti Tuberkulosis

Efek Samping Obat-obatan Anti Tuberkulosis

Selama waktu pengobatan tuberkulosis, dokter akan terus memantau bagaimana perkembangan dari kemajuan pengobatan pasien. Biasanya hal ini dilakukan dengan cara melakukan pemeriksaan darah, dahak, atau tes urin hingga pemeriksaan rontgen. Jika setelah enam bulan pasien dinyatakan sembuh dari Tuberkulosis berdasarkan pemeriksaan-pemeriksaan tersebut, maka pengobatan bisa dihentikan.

Selain manfaatnya dalam pengobatan TBC, obat-obatan anti TBC juga memiliki beberapa efek samping.

Berikut ini adalah jenis obat-obatan anti TBC, dengan efek samping yang dapat terjadi.

  • Isoniazid.

Obat anti TBC ini akan membuat tubuh merasa lemah, mual, atau membuat nafsu makan hilang. Terkadang Isoniazid juga menyebabkan mati rasa atau kesemutan pada bagian tangan atau di kaki, tapi biasanya hanya terjadi pada orang yang kurang gizi.

  • Rifampisin.

Efek samping obat ini adalah menurunkan efektivitas pil kontrasepsi (KB) dan beberapa jenis obat lainnya. Beritahu dokter Anda jika mengonsumsi obat jenis lain selama periode pengobatan TBC. Wanita penderita TBC yang ingin ber-KB sebaiknya berkonsultasi ke dokter terlebih dahulu mengenai jenis kontrasepsi apa yang paling efektif untuknya. Selain itu, Rifampisin dapat membuat lensa implan dan lensa kontak lunak menjadi bernoda. Rifampisin juga dapat menyebabkan urin, air lir, dan keringat berwarna merah atau oranye. Kabar baiknya, efek samping ini tidak berbahaya, sehingga tidak perlu dikhawatirkan.

  • Etambutol.

Etambutol akan menimbulkan efek samping berupa masalah penglihatan. Biasanya kualitas penglihatan pasien akan diperiksa selama pengobatan dengan etambutol.

  • Pirazinamid.

Obat anti TBC yang satu ini akan menyebabkan mual dan hilangnya nafsu makan. Pirazinamid biasanya hanya diterapkan selama dua atau tiga bulan pertama pengobatan TBC.

Hal penting yang perlu diperhatikan selama pengobatan TBC.

  • Hubungi dokter Anda jika mengalami efek samping diantaranya : Mual atau muntah, penyakit kuning – kulit dan mata berwarna kuning, emam yang tidak jelas penyebabnya, kesemutan atau mati rasa pada tangan atau kaki, atau nyeri sendi, ruam kulit, kulit gatal atau memar, hingga perubahan visual atau perubahan penglihatan (warna merah-hijau).
  • Beritahu dokter jika ada obat lain yang dikonsumsi.
  • Mengonsumsi obat TBC harus dalam selama minimal enam bulan, agar semua bakteri TBC mati.
  • Minum terus obat TBC dan jangan berhenti meskipun merasa sudah sehat, kecuali jika dokter telah menyatakan sembuh. Mengonsumsi obat TBC harus teratur dan sesuai dengan jadwal, karena bila tidak, bakteri TBC akan menjadi resisten (kebal) terhadap obat-obatan.
  • Alkohol dapat meningkatkan efek samping dan toksisitas obat TBC, karena keduanya mempengaruhi hati. Jangan minum alkohol. (medkes).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.